Gaming Forum_The only way to win baccarat_Lottery website platform_U.S. online casino

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:WadeInternational

Football Handicap Teachinglebih lFootball HaFootball Handicap Teachingndicap TeachinganjFootball Handicap Teachingut Prof. AFootball Handicap Teachingman menekankan kalau rekomendasi yang beliau sampaikan perlu dijalankan apabila positive rate Covid-19 masih di atas 10 persen. Dalam kesempatan ini beliau juga menyinggung data perkiraan yang menyebutkan selama 17 bulan pandemi berlangsung di Indonesia, sekitar 7 juta bayi lahir. Artinya, makin banyak ibu menyusui dan bayi yang harus diperhatikan.

Seperti sudah diketahui, air susu ibu (ASI) sangat penting bagi bayi karena merupakan sumber gizi utama mereka. ASI juga penting karena dari sana bayi mendapatkan daya tahan tubuh, yang belum bisa terbentuk sendiri sebelum ia mencapai usia enam bulan ke atas.

Oleh karena itu, dalam peringatan Pekan Menyusui Sedunia, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam webinar ‘Profesor Bicara ASI’ yang diselenggarakan pada Rabu (4/8), menegaskan kembali bahwa melindungi ibu hamil dan menyusui merupakan tanggung jawab bersama yang harus terus diupayakan.

(Ilustrasi) Ibu menyusui | Photo by Wendy Wei from Pexels

Maka jelas, memastikan ASI bagi bayi merupakan hal yang penting untuk diupayakan para ibu. Meski begitu, dalam praktiknya memberikan ASI nggak selalu mudah dan lancar. Kondisi kesehatan sang ibu dan waktu untuk bisa menyusui si kecil adalah beberapa faktor faktor yang dapat menghambat pemberian ASI.

Bentuk perlindungan bagi ibu menyusui seperti dimaksudkan BKKBN dan IDAI bisa beragam. Ketua IDAI Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI merekomendasikan, di tengah pandemi yang masih jadi momok bersama ini, memberikan cuti selama enam bulan atau kebijakan work from home (WFH) untuk ibu menyusui yang bekerja bisa jadi salah satu langkah perlindungan. Dengan ini para ibu bisa fokus melakukan pemberian ASI untuk sang buah hati.

(Ilustrasi) Pendampingan ibu hamil | Photo by MART PRODUCTION from Pexels

“Pandemi sudah berlangsung 17 bulan, dan diperkirakan sudah sekitar 7 juta bayi lahir. Namun, ternyata kita abai bagaimana keadaan ibu dan bayi. Saat ini sudah terjadi 1000 lebih anak meninggal. Yang menyedihkan lagi, 600 lebih meninggal dalam waktu sebulan terakhir, dan 42 persen atau sekitar 400 adalah bayi,” kata Prof Aman dikutip dari keterangan rilis, Rabu (4/8).

Sementara untuk menanggapi lonjakan kehamilan selama pandemi seperti telah disampaikan Prof Aman sebelumnya, dr. Hasto mengatakan BKKBN terus melakukan dan meningkatkan layanan kontrasepsi. Beliau mengatakan, saat ini mitra BKKN dalam layanan kontrasepsi sudah mencakup bidan praktik swasta sementara sebelumnya hanya puskesmas.

“Hal ini harus menjadi perhatian bersama. (Perlu menerapkan) model yang sudah dilakukan Belanda, di mana semua ibu hamil terkawal dengan baik oleh semacam dokter keluarga. Dengan kondisi Indonesia saat ini kita memiliki sekitar 400 ribu bidan dengan jumlah desa sekitar 76 ribu. Bidan yang ada di desa-desa inilah yang saya harap bisa mendampingi, mencatat dan kontrol kesehatan ibu hamil,” kata dr. Hasto.

Hal tersebut penting, salah satunya karena dua bulan pertama pasca melahirkan merupakan waktu emas pemberian ASI. Dua bulan pertama, kata Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp. A (K) adalah waktu di mana kalori ASI masih sangat tinggi. Oleh karena itu menurut beliau para ibu perlu melakukan manajemen laktasi seperti memerhatikan perlekatan atau posisi saat menyusui.

Dalam kesempatan ini dr. Hasto juga menyampaikan harapannya terkait refocusing anggaran dan reformasi birokrasi yang tengah dilakukan negara lantaran pandemi. Beliau berharap hal tersebut juga dilakukan pada keluarga untuk refocusing keuangan dalam pemenuhan kecukupan gizi dan nutrisi kesehatan pada ibu dan anak yang baru lahir.

Di lain sisi, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyampaikan angka kelahiran sebelum waktunya saat ini juga masih cukup tinggi, yang mana turut jadi penyumbang tingginya angka kematian bayi. Maka untuk menyikapi kondisi tersebut, dr. Hasto menekankan perlu adanya pendampingan ibu hamil oleh dokter atau bidan desa.