Betting Handicap_Gaming platform ranking_Football Handicap Knowledge

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:WadeInternational

“Jangan sOnline gambling platfoOnline gambling platformrmonline gambling platformekolah tinggi, nanti minder lho yang maOnline gambling platformu menikahi!”

Lontaran kalimat di atas leOnline gambling platformbih mengacu pada "perempuan yang bersekolah tinggi", seolah-olah sifat minder laki-laki adalah tanggungjawab perempuan itu sendiri. Padahal fenomena tersebut terjadi karena kurangnya kepercayaan diri serta konsep diri yang dimiliki laki-laki. Saya rasa, laki-laki dengan rasa percaya diri dan konsep diri yang baik tidak akan bermasalah apabila berpasangan dengan perempuan yang pendidikannya tinggi.

Pendidikan tinggi bukan hanya sebagai batu loncatan menggapai gelar dan membangun karir, melainkan tempat kita menimba ilmu, menambah wawasan, membentuk pola pikir, yang pastinya sangat berguna bagi diri sendiri dan orang di sekeliling.

Sederat stigma disematkan kepada perempuan yang ingin melanjutkan pendidikannya dan ingin menambah wawasan yang lebih luas dan tinggi di bangku sekolah. Masih banyaknya masyarakat yang berpikir bahwa, percuma seorang wanita disekolahkan tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya nanti cuma jadi ibu rumah tangga, ngurusin dapur, cucian baju anak dan suami, bersih-bersih rumah, menyiapkan makanan untuk anak dan suami. Tanpa sekolah tinggi, pekerjaan itu pun bisa dipelajari, tentunya ijazah sarjana dan sebagainya seakan kian tak berguna.

"Percuma perempuan sekolah tinggi-tinggi, ujungnya juga di dapur." Saya tegaskan sekali lagi, tidak ada kata percuma. Mau berakhir menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga, tidak ada pendidikan tinggi yang sia-sia.

“ Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ujung-ujungnya di dapur!”

Di masa yang akan mendatang, tentunya saya ingin menjadi ibu, teman, sekaligus guru bagi anak-anak kelak. Bukan hanya tentang melayani, tapi juga mengajari. Saya ingin menjadi perempuan pertama yang dapat menanamkan nilai-nilai teladan kepada anak. Saya ingin menjadi perempuan pertama yang bisa menjawab pertanyaan anak dengan cerdas dan bijak. Saya ingin menjadi perempuan pertama yang dapat menjadi tempat diskusi anak secara sehat. Saya ingin melahirkan anak yang teredukasi agar bisa berkembang. Semua itu tidak akan berjalan semudah membalikkan telapak tangan jika tidak didasari dengan ilmu dan menempuh pendidikan merupakan salah satu jalan mencapai ilmu tersebut.

“Gak usahlah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga paling jadi ibu rumah tangga!”

Beruntungnya, saya dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat luar biasa dan dibesarkan oleh ayah yang begitu tangguh luar biasa. Dengan segenap usaha yang tentu tidak mudah, beliau mampu mendukung dan menyekolahkan ke empat putrinya dengan baik. Stigma masyarakat mengenai perempuan yang sekolah tinggi akan sulit dapat jodoh pun tak dihiraukannya.

Sebaliknya, ia justru akan mendukung. Semakin pintar perempuan, maka semakin besar pula peluang untuk mendominasi laki-laki. Padahal, pintar bukan tentang mendominasi atau menguasai. Namun, bagaimana ia pintar mengontrol emosi, pintar mengelola uang, pintar bertukar pikiran, pintar mendidik anak, dan masih banyak lagi.

Jadi, bagi kalian perempuan yang ingin menuntut ilmu tak perlu lah ragu-ragu lagi, niatkan semua untuk menjadikan diri dan wawasan lebih luas lagi. Dan teruntuk kalian para laki-laki, tak perlu khawatir dan minder akan didominasi, karena wanita yang baik dan cerdas, ia akan tahu caranya menghargai dan menghormati.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

“Awas lho nanti laki-laki pada minder, gak ada yang mau, jadi perawan tua baru tahu rasa!” Pedes banget ya nyinyirannya, tapi kalimat ini sering sekali terdengar. Miris memang, tidak mau menuntut ilmu cuma karena takut gak ada yang mau. Padahal seorang laki-laki yang  berpikir maju kedepan, ia akan sangat senang sekali jika calon ibu dari anak-anaknya adalah wanita yang terdidik dan berilmu, dengan begitu ia bisa mendidik anaknya lebih baik lagi.  Bukan malah sebaliknya, merasa minder dan malah enggan untuk bersanding dengan perempuan yang berwawasan.

Tentu, hal ini tidak hanya menjadi cita-cita saya saja sebagai seorang perempuan, melainkan banyak perempuan diluar sana yang memiliki cita-cita dan sedang sama-sama berjuang untuk tetap meraih pendidikan dan berwawasan. Sebagai seorang perempuan yang nantinya akan memiliki peran yang sangat penting untuk orang-orang disekitar, tentu menjadi sangat perlu untuk seorang perempuan itu berilmu. Maka, sangat disayangkan jika masyarakat sekarang masih berpikiran bahwa perempuan perannya sebatas mengurus pekerjaan rumahan dan tak perlu untuk menimba ilmu dan berguru.

Saya ingat betul ketika ibu saya mendapat banyak sekali nyinyiran dari tetangga ketika memutuskan anak-anak perempuannya untuk disekolahkan ke perguruan tinggi. Tetangga yang notabenenya tinggal di desa ini, banyak berkomentar kenapa harus susah-susah menyekolahkan anak sampe sarjana, nanti juga ujung-ujungnya cuma ngurus kebutuhan rumah tangga.